Hubungan Aktvitas Fisik, Indek Massa Tubuh terhadap Asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Bengkulu

Andri Kusuma Wijaya, Muhamad Rivaldo Pratama, Fatsiwi Nunik Andari

Sari


ABSTRACT

 

Asthma is an obstructive respiratory disease caused by reversible narrowing of the airways (narrowing that resolves spontaneously). Signs and symptoms include episodes of respiratory obstruction between asymptomatic intervals. However, this reversible condition can sometimes become minimally reversible (narrowing that resolves with treatment). Asthma can also be described as a condition characterized by shortness of breath. This condition demonstrates an abnormal response in the respiratory system to various stimuli, resulting in airway narrowing that can spread to other parts of the body. Asthma, in this context, can be defined as a condition characterized by pathological changes that cause airway obstruction, resulting in bronchospasm, hypersecretion of thick mucus, and mucosal edema. Asthma can recur if triggered by several factors, including environmental factors, food, emotions, and cold air. Polluted environments, such as cigarette smoke, dust, and vehicle pollution, can trigger asthma relapses. Another factor that can trigger an asthma relapse is physical activity. Physical activity, in this case, is linked to asthma attacks because when someone engages in physical activity, such as exercising without warming up or doing strenuous work, they breathe more rapidly, which increases the body's oxygen demand. Asthma attacks caused by physical activity are also known as exercise-induced bronchoconstriction. Besides physical activity, another condition that can trigger an asthma relapse is Body Mass Index (BMI). BMI in asthma patients plays a role in the development and treatment of the disease. The strong relationship between BMI and asthma severity is due to early menarche. Obese individuals have a 50% increased risk of developing asthma. Several of these conditions can trigger asthma flare-ups in severe casesThe study aims to determine the relationship between physical activity and body mass index and the severity of asthma in the Lingkar Timur Community Health Center Work Area of Bengkulu City. This research is a quantitative research using a cross-sectional research design where this design is used to see the results of the relationship between physical activity, body mass index and the severity of asthma in the Nusa Indah Community Health Center Work Area, Bengkulu City. The results of the bivariate analysis of this research activity using the chi-square statistical test showed that the relationship between physical activity and the severity of asthma had a p value of 0.000 < 0.05, while the relationship between body mass index and the severity of asthma had a p value of 0.000 < 0.05. The conclusion from the results of this research activity is that there is a relationship between physical activity and body mass index with the severity of asthma in the Working Area of the Lingkar Timur Community Health Center, Bengkulu City.

 Keywords: Asthma, Activity, Physical, BMI.  

ABSTRAK

 Asma adalah penyakit obstruksi pada sistem saluran pernapasan yang disebabkan oleh adanya penyempitan pada saluran pernapasan yang bersifat reversible (penyempitan bisa menghilang dengan sendirinya) adapun tanda dan gejala penyakit ini ialah adanya episode obstruksi pada pernapasan diantara kedua interval asimtomatik. Namun ada beberapa waktunya kondisi reversible ini dapat berubah  menjadi kondisi minim reversible (penyempitan akan berkurang jika mendapatkan pengobatan). Asma dapat juga disebut sebagai kondisi serangan napas pendek. Kondisi ini memperlihatkan bahwasanya terjadi respon yang terjadi bersifat tidak normal pada sistem saluran pernapasan  terhadap berbagai kondisi rangsangan sehingga berdampak pada penyempitan jalan napas yang dapat melebar kebagian tubuh yang lain. Asma dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kondisi dimana terjadinya perubahan secara patologis yang menyebabkan adanya sumbatan  pada jalan napas dengan penyebab bronkospasme, hipersekresi mucus yang bersifat kental dan edema mukosa. Asma dapat kambuh jika dipicu oleh beberapa faktor dalam hal ini lingkungan, makanan, emosi dan udara yang sedang dingin. Lingkungan yang penuh dengan polusi seperti halnya keberadaan asap rokok, debu dan polusi kendaraan merupakan kondisi yang dapat memicu kekambuhan asma. Faktor lainya yang dapat memicu kekambuhan asma ialah aktivitas fisik. Aktivitas fisik dalam hal ini memiliki hubungan dengan serangan asma karena saat seseorang melakukan aktivitas fisik misalnya melakukan kegiatan olah raga tanpa adanya pemanasan atau melakukan pekerjaan yang berat seseorang akan bernapas dengan frekuensi yang lebih cepat dan dalam kondisi ini akan menyebabkan bertambahnya kebutuhan oksigen di dalam tubuh. Serangan asma yang disebabkan oleh aktivitas fisik dikenal juga sebagai exercised inducted bronchoconstriction. Selain aktivitas fisik kondisi lainya yang dapat memicu kekambuhan asma ialah Indeks Massa Tubuh (IMT).  Indeks massa tubuh pada pasien asma memiliki peranan dalam perkembangan dan pengobatan penyakit. Hubungan kuat antara indeks massa tubuh terhadap kondisi keparahan penyakit asma  karena adanya proses menarche dini. Seseorang yang mengalami kondisi obesitas berisiko 50 % menderita penyakit asma. Beberapa kondisi ini dapat memicu terjadinya tingkat keparahan asma dalam kondisi yang berat. Penelitian bertujuan untuk diketahui hubungan aktivitas fisik dan indeks massa tubuh terhadap tingkat keparahan asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu.  Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kuantitatif dengan penggunaan rancangan penelitian cross sectional dimana rancangan ini digunakan untuk melihat hasil dari hubungan antara aktivitas fisik, indeks massa tubuh terhadap tingkat keparahan asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu.  Hasil analisis bivariat dari kegiatan penelitian ini dengan menggunakan uji statistic chi-square diketahui hubungan aktivitas fisik dengan tingkat keparahan asma didapatkan p value 0,000 < 0,05, sementara hubungan antara indeks massa tubuh dengan tingkat keparahan asma dengan p value= 0,000 < 0,05. Kesimpulan dari hasil kegiatan penelitian ini ialah ada hubungan antara aktivitas fisik dan indeks massa tubuh terhadap tingkat keparahan asma di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu.

 

Kata Kunci: Asma, aktivitas, Fisik, IMT.


Kata Kunci


Asma, aktivitas, Fisik, IMT

Teks Lengkap:

Download Artikel

Referensi


Annisa, Et All. (2025). Hubungan Paparan Asap Rokok Dengan Kejadian Asma Bronkial Di Poli Data Dari Who ( World. 3, 155–169.

Asyanti, . S. (2025). Manajemen Asma Dalam Keluarga Pendekatan Psikoedukatif. Deepublish. Https://Www.Google.Co.Id/Books/Edition/Manajemen_Asma_Dalam_Keluarga_Pendekatan/Mrsheqaaqbaj?Hl=Id&Gbpv=0

Dandan, J. G., Frethernety, A., & Parhusip, M. B. E. (2022). Literature Review : Gambaran Faktor-Faktor Pencetus Asma Pada Pasien Asma. Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya, 10(2), 1–5. Https://Doi.Org/10.37304/Jkupr.V10i2.3492

Depifo, A., Kusumawinakhyu, T., Dewantoro, L., & Kusumawati, A. (2025). Artikel Penelitian Pengaruh Tingkat Aktivitas Fisik Terhadap Eksaserbasi Asma The Influence Of Physical Activity Level On Asthma Exacerbation In Kkpm Purwokerto. 8(3).

Fitriani Et Al. (2023). Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Nuansa Fajar Cemerlang. Https://Www.Google.Co.Id/Books/Edition/Asuhan_Keperawatan_Dengan_Gangguan_Siste/_Tt_Eqaaqbaj?Hl=Id&Gbpv=1&Dq=Etiologi+Asma&Pg=Pa134&Printsec=Frontcover

Masyani, . Et Al. (2026). Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik Dengan Kekambuhan Pasien Asma Di Puskesmas Arjasa Kangean. 13(2), 282–289.

Maulana, A., Prihartono, N. A., & Yovsyah, Y. (2020). Hubungan Obesitas Dengan Risiko Kejadian Penyakit Asma Pada Perempuan Usia Produktif Di Indonesia. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, 4(1). Https://Doi.Org/10.7454/Epidkes.V4i1.3693

Nofita Et Al. (2023). Sosialisasi Upaya Penatalaksanaan Dan Pencegahan Asma Bronkial. 32(3), 167–186.

Nursalam. (2020). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : Pendekatan Praktis. Salemba Medika.

Oktaviani, P., & Kartikasari, D. (2021. (2021). Literature Review : Hubungan Obesitas Dengan Kejadian Asma. Seminar Nasional Kesehatan, 105(Imd), 766–771. Http://Jurnal.Unimus.Ac.Id

Pangaribuan Et Al. (2023). Asuhan Keperawatan Pada Keluarga Dengan Berbagai Masalah Kesehatan. Nuansa Fajar Cemerlang. Https://Www.Google.Co.Id/Books/Edition/Asuhan_Keperawatan_Pada_Keluarga_Dengan/Clubeqaaqbaj?Hl=Id&Gbpv=0

Pratama, M. R., & Wijaya, A. K. (2025). Jurnal Ners Generat L On. November, 250–255.

Ramayulis, . R. (2016). Diet Untuk Penyakit Komplikasi. Penebar Plus+. Https://Www.Google.Co.Id/Books/Edition/Diet_Untuk_Penyakit_Komplikasi/Cj7icwaaqbaj?Hl=Id&Gbpv=0

Rosyid, A, N., Amin, M., Bakhtiar, A., Maranatha, D. (2025). Buku Ajar Manajemen Pasien Asma Bronkial. Penerbit Airlangga University Press. Https://Books.Google.Co.Id/Books?Hl=Id&Lr=&Id=O9tceqaaqbaj&Oi=Fnd&Pg=Pa3&Dq=Kejadian+Asma+Bronkial+Di+Indonesia&Ots=-Rql3iidw3&Sig=Gdk7y9xy0akimsyrehmlwkdqf0o&Redir_Esc=Y#V=Onepage&Q=Kejadian Asma Bronkial Di Indonesia&F=False

Sapitri, T., Octaviani, O., Malisa, N. (2025). Jurnal Kesehatan An-Nuur. 2(September), 17–26.

Sentana Et Al. (2024). Keparahan Asma Di Rumah Sakit Umum Daerah Bangli Dosen Fakultas Kedokteran , Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Pendahuluan Asma Adalah Penyakit Kronis Yang Terutama Ditandai Dengan Mengi Yang Bersifat Episodik , Batuk , Dan Sesak Napas Akibat Hiperrespon. 1–7.

Wulandari, R., Rahmawati, I., & Merbawani, R. (2024). Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kekambuhan Asma Di Uobf Puskesmas Rembang Pasuruan. Perpustakaan Universtas Bina Sehat Ppni.

Zaida, A. R. S. (2025). Hubungan Kondisi Obesitas Dengan Kejadian Asma Pada Anak Usia 5-12 Tahun Studi Observasional Analitik Pada Siswa Sekolah Di Kecamatan Genuk. Universitas Islam Sultan Agung Semarang.




DOI: https://doi.org/10.33024/mnj.v8i5.25346

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.