Hubungan Status Gizi dan Asupan Purin dengan Kadar Asam Urat pada Masyarakat di Kelurahan Salo, Kabupaten Pinrang
Sari
ABSTRACT
Uric acid is the result of metabolism in the bodyderived from purine compounds. Increased uric acidlevels in the blood can be influenced by a person'snutritional status, for example in obese conditionswith excess fat accumulation which acceleratespurine metabolism. In the body, purine compoundswill break down and turn into uric acid. This study aims to observe the relationship betweennutritional status and purine intake with uric acidlevels in people living in Salo Village, Pinrang Regency. A cross sectional approach was chosen as the research design with purposive sampling method. A total of 96 sample respondentsparticipated in this study. The data collectionprocess used two instruments: a 24-hour food recallform combined with an interview technique torecord purine intake, and calculation of Body MassIndex (BMI) obtained from weight-heightmeasurements to determine nutritional status. Measurement of uric acid levels was carried out bytaking blood samples using a multi-parameter instrument. Based on the results of the analysis, significant correlations were found in two of thevariables studied: nutritional status to uric acidlevels (p = 0.002) and purine intake to uric acidlevels (p = 0.000). Conclusions point to the existenceof a significant relationship between nutritionalstatus and purine intake with uric acid levels.
Keywords: Uric acid, hyperuricemia, nutritional status, purine intake
ABSTRAK
Asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh yang berasal dari senyawa purin. Peningkatan kadar asam urat dalam darah dapat dipengaruhi olehstatus gizi seseorang, misalnya pada kondisi obesitas dengan penumpukan lemak berlebih yang mempercepat metabolisme purin. Di dalam tubuh, senyawa purin akan terurai dan berubah menjadi asam urat. Penelitian ini bermaksud mengamati hubungan status gizi dan asupan purin dengan kadar asam urat pada masyarakat yang bermukim di Kelurahan Salo, Kabupaten Pinrang. Pendekatan cross sectional dipilih sebagai desain penelitian dengan metode sampling purposive. Sebanyak 96 sampel responden berpartisipasi dalam penelitianini. Proses pengumpulan data menggunakan dua instrumen: formulir food recall 24 jam yang dipadukan dengan teknik wawancara untuk mencatat asupan purin, serta penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang diperoleh dari ukuran berat-tinggi badan guna menetapkan status gizi. Pengukuran kadar asam urat dijalankan dengan mengambil sampel darah memakai instrumen multi-cek parameter. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan korelasi signifikan pada dua variabel yang diteliti: status gizi terhadap kadar asam urat (p= 0,002) dan asupan purin terhadap kadar asam urat (p= 0,000). Kesimpulan mengarah pada keberadaan hubungan yang nyata antara status gizi dan asupan purin dengan kadar asam urat.
Kata Kunci : Asam urat, hiperurisemia, status gizi, asupan purin
Teks Lengkap:
Download ArtikelReferensi
Budiman, L. A., Rosiyana, R., Sari, A. S., Safitri, S. J., Prasetyo, R. D., Rizqina, H. A., … & Korwa, V. M. I. (2021). Analisis Status Gizi Menggunakan Pengukuran Indeks Massa Tubuh dan Beban Kerja dengan Metode 10 Denyut pada Tenaga Kesehatan. Nutrizione: Nutrition Research And Development Journal, 1(1), 6-15.
Debie A. (2022). Aspek Klinis Hiperurisemia. J Advert. 1(4):3. doi: https://doi.org/10.56260/sciena.v1i4
Fadila, E., Bamahry, A., Pratama, A. A., & Purnamasari, R. (2023). Hubungan Faktor-Faktor Risiko Dengan Hiperurisemia Pada Pasien Batu Saluran Kemih Di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tahun 2020-2022. Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran, 3(5), 326-334.
Fitriana, G. G., & Fayasari, A. (2020). Pola Konsumsi Sumber Purin, Aktivitas Fisik Dan Status Gizi Dengan Kadar Asam Urat Pada Lansia Di Puskesmas Kecamatan Makasar Jakarta. Jurnal Gizi Dan Pangan Soedirman, 4(1), 84-93.
Galvão I, Mastrippolito D, Talamini L, et al. (2022). The Therapeutic Effect of Phosphopeptide P140 Attenuates Inflammation Induced by Uric Acid Crystals in Gout Arthritis Mouse Model. Cells. 11(23):1-17. doi:10.3390/cells11233709
Hastuti, V. N., Murbawani, E. A., & Wijayanti, H. S. (2018). Hubungan asupan protein total dan protein kedelai terhadap kadar asam urat dalam darah wanita menopause. Journal of Nutrition College. 7(2):54. http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/
Kemenkes RI. (2018). Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Kementrian Kesehatan RI. 53(9):1689-1699.
Kushiyama A, Nakatsu Y, Matsunaga Y, et al. (2016). Role of uric acid metabolism-related inflammation in the pathogenesis of metabolic syndrome components such as atherosclerosis and nonalcoholic steatohepatitis. Mediators Inflamm. 2016. doi:10.1155/2016/8603164
Laeli, H. U., Yuanta, Y., & Firdaus, A. W. (2023). Hubungan Aktivitas Fisik, Asupan Purin Dan Status Gizi Terhadap Kadar Asam Urat Pasien Hiperurisemia. HARENA: Jurnal Gizi, 4(1), 30-39.
Mubarak, A. N., & Astuti, Z. (2022). Hubungan konsumsi makanan yang mengandung purin dengan kadar asam urat: Literature Review. Borneo Studies and Research, 3(3), 2659-2663.
Musa IM, Indarwati Abdullah RP, Akbar MA, Ramadhan W. (2022). Penyuluhan Diet Rendah Purin dan Pemeriksaan Kadar Asam Urat Darah sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Hiperurisemia. Jurnal Pengabdian Kedokteran Indonesia. 3(2):86-93. doi:10.33096/jpki.v3i2.195
Nasir M. (2019). Gambaran Asam Urat Pada Lansia Di Wilayah Kampung Selayar Kota Makassar. Jurnal Media Analis Kesehatan. 8(2):78. doi:10.32382/mak.v8i2.842
Noviyanti, Ola. (2015). Hidup Sehat Tanpa Asam Urat. Cet 1. Yogyakarta: Notebook.
Pati, T. (2020). Hubungan Status Gizi dan Asupan Purin Dengan Kadar Asam Urat Darah Pasien Gout Arthritis Lansia Usia 50-60.
Pramardika, D. D., Kasaluhe, M. D., Tooy, G. C., & Bajak, C. M. A. (2022). Buku Ajar Gizi dan Diet. Penerbit NEM.
Rahmaning Widi R, Kertia N, Nur Wachid D. (2011). The Relationship between Social Support and the Degree of Pain in Patient with Acute Phase of Gout Arthritis. Berita Kedokteran Masyarakat. 27(1):51.
Riswana I, Mulyani NS. (2022). Faktor risiko yang mempengaruhi kadar asam urat pada penderita hiperurisemia di wilayah kerja Puskesmas Muara Satu Kota Lhokseumawe. Darussalam Nutrition Journal. 6(1):29. doi:10.21111/dnj.v6i1.6909
Rosdiana, D. S., Khomsan, A., & Dwiriani, C. M. (2018). Pengetahuan Asam Urat, Asupan Purin Dan Status Gizi Terhadap Kejadian Hiperurisemia Pada Masyarakat Perdesaan. Media Pendidikan, Gizi, dan Kuliner, 7(2).
Sholihah F. (2014). Diagnosis and treatment of gout arthritis. Postgrad Med. 5(7):1-7. doi:10.1080/00325481.1949.11693819
Tane N, Lasanuddin H, Harismayanti. (2023). Hubungan Status Gizi Dengan Angka Kejadian Gout Arthritis Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Telaga. Journal of Educational Innovation and Public Health. 1(2):79-90.
Yang L, He Z, Gu X, Cheng H, Li L. (2021). Dose–response relationship between BMI and hyperuricemia. Int J Gen Med. 14:8065-8071. doi:10.2147/IJGM.S341622
Zitt E, Fischer A, Lhotta K, Concin H, Nagel G. (2020). Sex- and age-specific variations, temporal trends and metabolic determinants of serum uric acid concentrations in a large population-based Austrian cohort. Sci Rep. 10(1). doi:10.1038/s41598-020-64587-z
DOI: https://doi.org/10.33024/mahesa.v5i12.23153
Refbacks
- Saat ini tidak ada refbacks.
Publisher: Universitas Malahayati Lampung

Semua artikel dapat digunakan dibawah lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License


Panduan Penulisan





