PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG DAMPAK PERNIKAHAN DINI PADA KESEHATAN REPRODUKSI DI SMA BUDAYA BANDAR LAMPUNG
ABSTRAK
Pernikahan dini atau kawin muda sendiri adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan ataupun salah satu pasangannya masih dikategorikan remaja yang berusia dibawah 19 tahun. Praktik pernikahan usia dini paling banyak terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara didapatkan data bahwa sekitar 10 juta anak usia dibawah 18 tahun telah menikah, sedangkan di Afrika diperkirakan 42% dari populasi anak, menikah sebelum mereka berusia 18 tahun. Indonesia termasuk negara dengan presentase pernikahan usia muda tertinggi di dunia (ranking 37), dan tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja. Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa prevalensi umur pernikahan pertama antara 15-16 tahun sebanyak 41,9 persen. Secara nasional rata-rata usia kawin pertama di Indonesia 19,70 persen/ tahun. BKKBN Lampung mencatat, sepanjang tahun 2015 lalu, sebanyak 9675 masyarakat melakukan pernikahannya di bawah umur atau dibawah usia 20 tahun atau pernikahan dini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini pada kesehatan reproduksi di SMA Budaya Bandar Lampung.
Jenis penelitian kuantitatif, rancangan penelitian deskriptif, populasi 108 orang, sampel 93 orang, pengambilan sampel dengan teknik random sampling, analisa data menggunakan analisa univariat.
Hasil analisa univariat didapatkan pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini pada kesehatan reproduksi yaitu sebanyak 50 responden (53.8%) dalam kategori baik, 43 responden (46.2%) kategori kurang baik.
Pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini pada kesehatan reproduksi dalam kategori baik 53.8%.
Kata Kunci: Pengetahuan, Pernikahan Dini
ABSTRAK
Pernikahan dini atau kawin muda sendiri adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan ataupun salah satu pasangannya masih dikategorikan remaja yang berusia dibawah 19 tahun. Praktik pernikahan usia dini paling banyak terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara didapatkan data bahwa sekitar 10 juta anak usia dibawah 18 tahun telah menikah, sedangkan di Afrika diperkirakan 42% dari populasi anak, menikah sebelum mereka berusia 18 tahun. Indonesia termasuk negara dengan presentase pernikahan usia muda tertinggi di dunia (ranking 37), dan tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja. Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa prevalensi umur pernikahan pertama antara 15-16 tahun sebanyak 41,9 persen. Secara nasional rata-rata usia kawin pertama di Indonesia 19,70 persen/ tahun. BKKBN Lampung mencatat, sepanjang tahun 2015 lalu, sebanyak 9675 masyarakat melakukan pernikahannya di bawah umur atau dibawah usia 20 tahun atau pernikahan dini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini pada kesehatan reproduksi di SMA Budaya Bandar Lampung.
Jenis penelitian kuantitatif, rancangan penelitian deskriptif, populasi 108 orang, sampel 93 orang, pengambilan sampel dengan teknik random sampling, analisa data menggunakan analisa univariat.
Hasil analisa univariat didapatkan pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini pada kesehatan reproduksi yaitu sebanyak 50 responden (53.8%) dalam kategori baik, 43 responden (46.2%) kategori kurang baik.
Pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini pada kesehatan reproduksi dalam kategori baik 53.8%.
Kata Kunci: Pengetahuan, Pernikahan Dini
- DAFTAR PUSTAKA
- Al Rahmad, A. H. (2017). Pemberian ASI dan MP-ASI terhadap Pertumbuhan Bayi Usia 6–24 Bulan. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 17(1), 8-14.
- Ana Yusmila. hubungan pengetahuan siswi SMA tentang resiko pernikahan dini dengan kesehatan kehamilan di Langkapura Sumatra Selatan 2008
- Fadlyana, E., & Larasaty, S. (2016). Pernikahan usia dini dan permasalahannya. Sari Pediatri, 11(2), 136-41.
- Hertika, P. M., Sulistyorini, L., & Wuryaningsih, E. W. (2017). Hubungan Pernikahan Usia Dini dengan Risiko Tindak Kekerasan oleh Ibu pada Anak Usia Prasekolah di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember (The Relation between Early Marriage and the Risk of Abusing by Mothers Towards her Preschoolers. Pustaka Kesehatan, 5(3), 481-488.
- Hidayat, A. A. (2007). Metode penelitian kebidanan dan teknik analisis data. Jakarta: salemba medika, 43-44.
- Kesehatan, K., & RI, K. K. (2013). Riset kesehatan dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
- Kusmiran, 2011. Pola Asuh Anak Dan Remaja. . Jakarta : Salemba Medika
- Notoatmodjo, Soekidjo (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta
- Notoatmodjo, S. 2016. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
- Notoatmodjo, Soekidjo (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta
- Notoatmodjo, S. 2012. PromosiKesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
- Romauli S (2012). Kesehatan Reproduksi dan Proses Kehamilan. Jakarta : Salemba Medika
- Sibagarian dkk, 2010. Dampak Dan Penanggulangan Kejadian Pernikahan Dini. Nuha Medika : Yogyakarta
- Sistiarani, C. (2008). Faktor maternal dan kualitas pelayanan antenatal yang berisiko terhadap kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) studi pada ibu yang periksa hamil ke tenaga kesehatan dan melahirkan di rsud banyumas tahun 2008 (Doctoral dissertation, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro).
- Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif kualitatif dan R & D. Bandung : ALFABETA
- Yulmaini, S. (2015). Pengembangan Sistem Informasi Geografis Penyebaran Klinik Dan Pengguna Alat Kontrasepsi Di Bandar Lampung. Jurnal Informatika, 14(1), 36-49.
- Wawan, A & Dewi (2009), Pengetahuan, sikap dan perilaku manusia.Yogyakarta :Nuha Medika
- Widyastuti (2009). Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta : Salemba Medika