PENYULUHAN GIZI SEHAT DAN PENGUKURAN ANTROPOMETRI PADA BAYI DAN BALITA DI POSYANDU CARAKA NANDA III KELURAHAN PONDOK BETUNG TANGERANG SELATAN

Naziyah Naziyah, Risza Choirunnisa, Dessy Khoirunnisa

Sari


Kekurangan gizi diperkirakan menjadi penyebab 3,1 juta kematian anak setiap tahun atau sekitar 45% dari total kematian anak. Pemberian makanan bagi bayi dan balita merupakan kunci untuk memperbaiki kelangsungan hidup anak dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat pada anak. Dua tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan periode yang amat penting, karena nutrisi yang optimal selama periode ini dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian anak, mengurangi risiko penyakit kronis, serta mendukung perkembangan anak yang lebih baik. Pemberian ASI secara optimal sangatlah penting karena dapat menyelamatkan hidup lebih dari 800.000 balita setiap tahunnya. Untuk itu, WHO dan UNICEF merekomendasikan adalah Inisiasi menyusu dini dalam waktu 1 jam setelah anak lahir. ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan. Memperkenalkan makanan pendamping ASI (makanan padat) yang aman dan kadar gizinya cukup pada usia 6 bulan dengan tetap melanjutkan ASI hingga usia 2 tahun atau lebih. Namun, masih banyak bayi dan anak yang tidak mendapatkan nutrisi optimal. Contohnya, hanya sekitar 36% bayi usia 0-6 bulan di seluruh dunia yang mendapat ASI eksklusif pada tahun 2007-2014. Defisit satu indeks antropometri atau lebih merupakan indikasi adanya ‘kekurangan gizi’ dimasyarakat.  Namun keadaan defisit tersebut tidak dapat dikatakan hanya karena kekurangan konsumsi energi atau zat gizi saja, banyak factor yang terkait sebagai penyebab. Rendahnya ukuran antropometri merupakan indikasi kekurangan gizi pada saat ini dan dimasa lampau ditingkat seluler yang disebabkan karena rendahnya konsumsi makanan dan atau serangan infeksi yang berulang-ulang, dan atau karena adanya gangguan absorbsi zat-zat gizi. Kombinasi dan interaksi kekurangan gizi dan infeksi merupakan penyebab utama gangguan pertumbuhan pada bayi dan anak-anak. Karenanya hasil pengukuran antropometri tidak bisa secara langsung digunakan untuk menjelaskan gangguan pertumbuhan: interpretasi tergantung pada indeks antropometri yang digunakan, penyebab gangguan, dan mungkin keadaan social ekonomi masyarakat

Kata Kunci


Gizi sehat, pengukuran antropometri bayi dan balita

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


DAFTAR PUSTAKA

Dinas, K. E. N. (2013). Profil Kesehatan Kabupaten Maros Tahun 2013.

Darwanto, D. (2012). Ekonomi Pangan. Buku Suntingan, 1(1), 1-75.

Supriyo, S., Baequny, A., Hidayati, S., Hartono, M., & Harnany, A. S. (2013). Pengaruh perilaku dan status gizi terhadap kejadian TB paru di kota Pekalongan. Pena Medika Jurnal Kesehatan, 4(1), 1-8.

Aryadi, D. (2017). Hubungan Gizi Kurang Dan Obesitas Dengan Kemampuan Kognitif Dan PsikomotorAnak Usia 9-12 Di SD (Doctoral dissertation, UNIMUS).

Merta Dewi, N. N. (2019). Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu, Kunjungan ke Posyandu, dan Tingkat Konsumsi Zat Gizi Dengan Status Gizi Balita Di Daerah Pariwisata Sanur (Doctoral dissertation, Poltekkes Denpasar).

Pandji, D. (2013). Anak Special Needs. Elex Media Komputindo.

Salim, A. (2016). Hubungan Konsep Diri dan Komunikasi Interpersonal Dengan Kecerdasan Spiritual Ibu-Ibu pada Pengajian Majlis Ta'lim Raudhatun Nisa'Langsa (Doctoral dissertation, Universitas Medan Area).

Wijayanti, I. (2018). Pekerjaan Ibu Di Luar Rumah Dan Tinggi Badan Ibu Bapak Pendek Sebagai Faktor Resiko Kejadian Stunting Pada Anak Sekolah Dasar Di Kabupaten Pemalang (Doctoral Dissertation, Universitas Muhammadiyah Semarang).

Kemenkes RI. (2017). Pedoman Umum Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu . http://gizi.depkes.go.id/asi/pedoman%20MP-ASI%20Lokal.pdf.




DOI: https://doi.org/10.33024/jkpm.v3i1.2377

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Disponsori oleh : Universitas Malahayati Lampung dan DPW PPNI Lampung


Creative Commons License
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.