Pengaruh Lama Penundaan Pembuatan Serum Terhadap Kadar Asam Urat
Sari
ABSTRACT
The pre-analytical, analytical, and post-analytical phases are critical stages in laboratory quality control, with most laboratory errors occurring during the pre-analytical phase, particularly in specimen handling and processing. This study aimed to determine the effect of serum preparation delay for 30 minutes, 90 minutes, and 120 minutes on uric acid levels. This research was an observational analytic study with a cross-sectional design. Venous blood samples were collected from 30 students of the Applied Bachelor Program in Medical Laboratory Technology, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Serum preparation was delayed for 30, 90, and 120 minutes prior to centrifugation. Data were analyzed descriptively and statistically using the Shapiro–Wilk normality test and Repeated Measure ANOVA. The mean uric acid levels obtained after serum preparation delays of 30 minutes, 90 minutes, and 120 minutes were 3.1747 mg/dL, 2.2513 mg/dL, and 1.8473 mg/dL, respectively. Statistical analysis showed a significant effect of serum preparation delay on uric acid levels (p = 0.000). Conclusion : Delayed serum preparation significantly decreases uric acid levels, indicating that prolonged pre-analytical delays may affect the accuracy of laboratory examination results.
Keywords: Serum, Uric Acid Level, Serum Preparation Delay.
ABSTRAK
Tahap pra analitik, analitik, dan pasca analitik merupakan fase penting dalam pengendalian mutu laboratorium, di mana sebagian besar kesalahan laboratorium terjadi pada tahap pra analitik, khususnya dalam pengolahan spesimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penundaan pembuatan serum selama 30 menit, 90 menit, dan 120 menit terhadap kadar asam urat. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Spesimen darah vena diambil dari 30 mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Pembuatan serum ditunda selama 30 menit, 90 menit, dan 120 menit sebelum sentrifugasi. Data dianalisis secara deskriptif dan statistik menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilkdan uji Repeated Measure ANOVA. Rata-rata kadar asam urat pada penundaan pembuatan serum selama 30 menit, 90 menit, dan 120 menit berturut-turut adalah 3,1747 mg/dL, 2,2513 mg/dL, dan 1,8473 mg/dL. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan lama penundaan pembuatan serum terhadap kadar asam urat (p = 0,000). Lama penundaan pembuatan serum berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar asam urat, sehingga pengendalian tahap pra analitik sangat penting untuk menjaga keakuratan hasil pemeriksaan laboratorium.
Kata Kunci: Serum, Kadar Asam Urat, Penundaan Pembuatan Serum.
Kata Kunci
Teks Lengkap:
Download ArtikelReferensi
Apriani, & Umami, A. (2018). Perbedaan kadar glukosa darah pada plasma EDTA dan serum dengan penundaan pemeriksaan. Jurnal Vokasi Kesehatan, 4(1), 19–22.
Clinical and Laboratory Standards Institute. (2010). Procedures for the handling and processing of blood specimens for common laboratory tests: Approved guideline (4th ed.). Wayne, PA: CLSI.
Istianah. (2016). Perbedaan kadar asam urat pada pasien tidak puasa dengan pasien puasa 8, 10, dan 12 jam (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang.
Jailana, Suhandi, La Ode, M., & S. (2017). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asam urat pada usia 20–44 tahun di RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2017. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 3(2), 1–13.
Kakutami-Hatayama, M., Kato, S., & Yamanaka, H. (2017). Nonpharmacological management of gout and hyperuricemia: Hints for better lifestyle. American Journal of Lifestyle Medicine, 11(4), 321–329.
Kamal, Y. M. (2019). Pengaruh penundaan sebelum sentrifugasi terhadap kadar bilirubin total pada serum pasien hepatitis (Skripsi). Poltekkes Kemenkes Surabaya, Surabaya.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Penyelenggaraan pemeriksaan laboratorium untuk ibu hamil, bersalin, dan nifas di fasilitas pelayanan kesehatan dan jaringan pelayanannya. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Khumthekar, A. N., & Sonune, M. S. (2022). Study of errors in pre-analytic, analytic, and post-analytic phases of testing cycle at central clinical laboratory of a tertiary hospital. European Journal of Molecular & Clinical Medicine, 9(3), 12124–12130.
Kosasih, et al. (2018). Tafsiran hasil pemeriksaan laboratorium klinik. Tangerang: Karisma Publishing Group.
Krisyanella, H. R. K., Meinisasti, R., & Relijen, T. A. (2019). Profil kadar asam urat pada pengkonsumsi minuman tuak di Singaran Pati Kota Bengkulu. Journal of Nursing and Public Health, 7(2), 13–18.
Lieseke, C. L., & Zeibig, E. A. (2017). Buku ajar laboratorium klinis. Jakarta: EGC.
Mamonto, J. B. (2020). Pengaruh lama waktu penundaan pembuatan serum terhadap kadar trigliserida (Karya Tulis Ilmiah). Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang.
Martsiningsih, A. M., & Otnel, D. (2016). Gambaran kadar asam urat darah metode basah (Uricase PAP) pada sampel serum dan plasma. Jurnal Teknologi Laboratorium, 5(1), 20–26.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Cara penyelenggaraan laboratorium klinik yang baik. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Sastroasmoro, S., & Ismael, S. (2014). Dasar-dasar metodologi penelitian klinis (Ed. ke-5). Jakarta: Sagung Seto.
Siregar, M. T., Wieke, S. W., Doni, S., & Nuryati, A. (n.d.). Kendali mutu bahan ajar teknologi laboratorium medik (TLM). Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Sugiyono. (2012). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sya’bania, F. N. (2019). Perbedaan asam urat serum berdasarkan waktu inkubasi 10 menit, 60 menit, dan 90 menit (Karya Tulis Ilmiah). Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang.
Thayibah, R., Ariyanto, Y., & Ramani, A. (2018). Hiperurisemia pada remaja (16–24 tahun) di wilayah kerja Puskesmas Arjasa Kabupaten Situbondo. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6(1), 38–45.
Yunita, E. P., Fitriana, D. I., & Gunawan, A. (2018). Associations between obesity, high purine consumptions, and medications on uric acid level with the use of allopurinol in hyperuricemia patients. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, 7(1), 1–9.
DOI: https://doi.org/10.33024/mnj.v8i5.24967
Refbacks
- Saat ini tidak ada refbacks.


Panduan Penulisan




